Lattest News
 

Ketimbang Bengong, Saksikan Iklan, dong

oleh : Ali Imron Hamid

Kini makin banyak tawaran media iklan di luar saluran-saluran komunikasi konvensional. Selain berbiaya lebih murah, para pengiklan menganggapnya lebih efektif. Penonton pun bisa membunuh waktu.

Konon para pemasang iklan makin tak tertarik menawarkan produk atau membangun imaji merek lewat media massa. Alasannya sederhana, sudah ongkos pasangnya mahal, acap kali target konsumen mereka tak sesuai dengan target audience koran, majalah, radio, atau televisi yang mencetak atau menayangkan iklan tersebut.

Entah seberapa benar pendapat itu, yang pasti kini memang makin banyak media alternatif untuk beriklan. Salah satunya yang sedang ngetren di Jakarta adalah iklan melalui layar TV tipis di ruang-ruang publik indoor. Selain terpasang pada dinding halte bus Transjakarta koridor satu dan kereta api ekspres jurusan Bogor- Jakarta Kota, layar-layar televisi yang menayangkan gambar bergerak itu banyak terpampang pada lift gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan modern.

Para pekerja yang berkantor di Menara Bidakara, Wisma 77 Slipi, Sudirman Park, Sudirman Tower Condominium, Apartemen Mediteranian Palace, Ventura Simatupang, Bank Niaga, dan Gajah Mada Tower saban hari bisa menyimak tayangan iklan lewat layar televisi semacam itu. Siapa gerangan pemasangnya? Ternyata PT Focus Media Indonesia yang menjadi penyedia jasa media iklan di berbagai gedung itu.Saking getolnya pemasang iklan menyampaikan pesan lewat layar tersebut, menurut Focus, mereka harus sabar menunggu giliran. Telkomsel, Indosat, KFC, XL, Nestle, dan Khong Guan Biscuit hanya bagian dari calon pengiklan yang masuk waiting list. "Kami sedang kehabisan stok LCD. Soalnya, sekali pasang membutuhkan 13 LCD TV dengan kisaran harga hingga puluhan juta rupiah," kata Hadianto, Manajer Marketing Focus Media Indonesia.

Menariknya, Focus sama sekali tidak perlu membayar ongkos ke pengelola gedung untuk menitipkan layar LCD tersebut. Mereka hanya perlu menjatah pihak gedung dengan slot iklan. "LCD TV itu akan memutar iklan selama 12 menit secara berulang selama 12 jam. Startnya mulai dari jam 7 pagi sampai jam 19.00. Total dalam sehari, sebuah iklan bisa 60 kali putar," ungkapnya.

Namun, tak sembarang gedung masuk kriteria mereka untuk layak dititipi LCD TV. Focus hanya mengincar gedung-gedung yang memiliki lift. Sudah begitu, mereka pun hanya tertarik memasang LCD TV di gedung-gedung yang memiliki enam lantai atau lebih. Alasannya, mereka yakin bahwa aktivitas lift banyak terjadi di lantai empat ke atas.

Responsnya? Ternyata pengelola gedung perkantoran cukup puas dengan keberadaan layar-layar TV itu. Menurut mereka, alat tersebut terbukti efektif mengusir kebosanan orang saat menumpang lift. Akan halnya keuntungan Focus Media sendiri berasal dari para pemasang iklan di LCD tersebut. Bahkan, kabarnya pendapatan iklan mereka cukup besar.

Kendati tak mau memerinci besaran penghasilan yang mereka jaring dari layanan ini, Focus mengklaim pemasang iklan merespons baik media alternatif beriklan tersebut. Pasalnya, para pengiklan menganggap segmen penonton iklan di LCD TV memang pas dengan produk-produk mereka. "Orang kantoran pasti punya uang. Apalagi iklan-iklan itu diputar di dalam lift maupun di ruang lobby yang merupakan area publik," ujar Hadianto. Oh, ya, Focus tidak mengizinkan pengelola gedung memutar iklan mereka di lokasi lain. Efektif sekaligus menjadi pembunuh waktu.

Pendapat serupa juga terlontar dari pengelola bus Transjakarta yang mengoperasikan bus-bus di jalur khusus (busway). Menurut Sri Ulina, Humas Transjakarta, media iklan berupa LCD TV di halte-halte busway menjadi sarana beriklan yang ampuh karena iklan tersebut bisa menjadi tontonan bagi para penumpang busway untuk membunuh rasa suntuk sembari menunggu bus datang. "Dalam lima menit, kami bisa menayangkan iklan dengan durasi 20 detik sampai 30 detik. Itu pun kami putar secara berulang kali sehingga pesan pun sampai ke penumpang," tandasnya, berpromosi. "Iklan minuman, ponsel, dan barang-barang konsumtif lainnya akan mudah diingat para penunggu bus di halte busway," ucapnya.

Selama ini, iklan-iklan yang tertayang di halte busway tak selamanya bersifat komersial. Transjakarta menyediakan 20% space di LCD TV mereka untuk penayangan iklan layanan masyarakat seperti pesan antikorupsi serta antinarkoba. Mereka pun pernah menayangkan iklan layanan masyarakat sebuah pusat kebudayaan asing. "Kami pernah bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis dalam sebuah festival video ekperimental. Rupanya, banyak masyarakat yang suka dengan kegiatan itu," ujarnya.

Adapun sisa slot lainnya memang mereka tujukan bagi para pemasang iklan. Setiap iklan akan mereka tayangkan selama dua pekan, sesuai dengan kontrak. Sayang, Ulina tidak bisa menjelaskan detail isi kontrak yang mesti diteken para pemasang iklan itu. Yang jelas, menurutnya, Transjakarta mendapatkan tambahan income sampai puluhan juta dari setiap iklan yang masuk. Satu hal menarik, Transjakarta tidak mau menerima tayangan i-klan dari produsen rokok. Bisa kita maklumi, soalnya Pemerintah Provinsi Jakarta sendiri sudah melarang aktivitas merokok di tempat-tempat publik, termasuk halte busway. Enggak lucu, dong, kalau ada simbol dilarang merokok di halte, eh, ternyata ada tayangan iklan rokok di TV-nya. "Kalau di luar iklan itu, kami bisa terima, kok; seperti iklan minuman, ponsel, dan iklan layanan masyarakat," tandasnya.

Melihat prospeknya yang cerah, tahun depan Transjakarta akan memasang TV iklan serupa di seluruh koridor busway. Jadi, kelak setiap penumpang yang menunggu bus di halte bisa menyimak beragam tayangan iklan tersebut. Hanya, untuk koridor lain itu Transjakarta akan menggandeng pihak ketiga sebagai penyedia TV-nya sekaligus menjadi pengelolanya. Kerjasama itu berlaku untuk enam bulan hingga setahun. Sayang, lagi-lagi Ulina main rahasia tak mau membocorkan siapa pemenang tender tersebut.

sumber: www.kontan-online.com

   
  Other News
 
Padukan TI dan Kekayaan Lokal Perguruan Tinggi

Dalam Digital Signage, dalam satu display akan ditampilkan beberapa tayangan misalnya ada video karya mahasiswa/dosen, promosi koleksi baru perpustakaan, info/berita seputar kampus.

Universitas Petra Surabaya Luncurkan "Digital Signage"

Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya meluncurkan "Digital Signage" pada 28 Januari untuk merayakan hari jadi ke-42. "Digital Signage itu merupakan media baru untuk promosi yang sering dipakai sebagai iklan di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika," kata Kepala Perpustakaan UK Petra, Ir Aditya Nugraha MS, di Surabaya, Minggu. Hingga kini, katanya, belum banyak yang menggunakan Digital Signage untuk kepentingan edutainment atau corporate communication, apalagi di Indonesia.